Cari Blog Ini

Sabtu, 04 Desember 2010

Objek Wisata di Kalimantan Barat

Istana kerajaan Sintang



Sintang merupakan eks sebuah kerajaan dengan sebuah istana sebagai peninggalannya. Istana ini dibangun pada tahun 1839 dan sampai sekarang masih utuh terdiiri dari satu buah bangunan induk dan dua buah paviliun. Bekas Istana Kerajaan Sintang saat ini dikelola oleh Pemkab Sintang tersebut terletak dipinggir Sungai Kapuas dan dimanfaatkan untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah baik benda bersejarah peninggalan kerajaan maupun peninggalan lainnya.



Kawasan wisata alam Bukit Kelam



Kawasan Wisata Bukit Kelam yang berada di wilayah Kecamatan Kelam Permai. Daya tarik objek wisata alam perbukitan khususnya kawasan wisata alam Bukit Kelam dapat dilihat dari kondisi perbukitan itu sendiri yang memiliki keindahan yang khas. Hutan wisata Bukit Kelam berada diantara dua sungai besar yaitu Sungai Melawi dan Sungai Kapuas dan termasuk didalam SdubDAS Melawi dimana keberadaan hutan wisata tersebut merupakan kawasan sumber air yang mengalir sebagai sungai yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan air minum, MCK dan irigasi.

Berdasarkan pengamatan diketahui kualitas baik perairan sungai di hutan wisata didominasi oleh perbukitan dan hutan wisata ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alarn dan untuk lokasi terbang layang dan panjat tebing karena terletak pada ketinggian 50 - 900 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 15° - 40° serta kemiringan diatas 45°. Pohon yang tumbuh dikaki bukit umumnya berbatang tinggi, sedangkan dipuncaknya ditumbuhi semak semak. Pada dinding bukit jarang ditumbuhi tumbuhan karena terdiri dari batu terjal sehingga pepohonan yang yang tumbuh dan tertata rapi didalam jambangan.

Di Bukit ini juga terdapat tumbuh-tumbuhan langka seperti Kantong Semar Raksasa yang oleh masyarakat setempat dipergunakan sebagai wadah untL*k menanak nasi, selain itu juga terdapat Anggrek Hitam. Saat ini kawasan Bu-kit Kelam sudah direnopasi dan kawasan ini dijadikan sebagai Pusat Perkemahan bagi pramuka. Untuk mencapai puncak Bukit Kelam saat ini sudah dibangun sebuah tangga dengan ketinggian ± 90 m yang terletak disebelah barat. Kawasan Bukit Kelam saat ini terus dikembangkan karena punya rentetan perbukitan lainnya seperti Bukit Luit dan Bukit Rentab. Selain itu juga kawasan ini sangat baik jika dibangun tempat peristirahatan yang nantinya dapat
dikembangkan menjadi desa wisata yang menarik dan unik.

Hal ini juga tidak terlepas dari keberadaan dua rumah panjang didekat lokasi perbukitan ini yaitu Rumah Panjang Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang.

Bagi pengunjung yang suka bertualang menghadapi tantangan alam dan merindukan pemandangan alam yang asli maka Bukit Kelam adalah tempat yang cocok dalam memenuhi selera anda. Pendakian ke puncak bukit dapat ditempuh melalui dua cara :

1. mengunakan tangga
2. melalui Tebing Batu yang sangat terjal dan menantang.

Dari Puncak Bukit dapat terlihat pemandangan alam yang sangat indah seperti :

1. Hutan tropis dan berbagai jenis tanaman langk.
2. Dua aliran sungai yang mengapit Kota kabupaten
3. Tata Kota Sintang dan persawahan yang ada dibawahnya.

Yang kesemuanya merupakan pemandangan alam yang sangat menakjubkan dan panorama alam yang sangat nyaman, dapat dikunjungi melalui transportasi darat dengan jarak dari Kota 18 Km.



Taman Alun-alun Kapuas



Mengunjungi Kota Pontianak tentu belum lengkap bila belum datang ke Taman Alun-alun Kapuas. Meskipun mal, kafe, dan berbagai pusat hiburan lainnya menjamur di Kota Pontianak, tingkat kunjungan wisatawan ke Taman Alun-alun Kapuas tidak menurun. Bahkan, setelah direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1999, tingkat kunjungan wisatawan ke taman yang berada di dekat kantor walikota ini kian menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu.

Lokasinya yang strategis dan berada di pusat Kota Pontianak menjadikan taman ini sebagai salah satu tempat rekreasi favorit bagi masyarakat kota untuk melepas penat sehabis bekerja seharian atau sekadar untuk mencari inspirasi.


Pada sore hari, sambil berdiri di tepi pagar taman, pengunjung dapat menikmati keindahan Sungai Kapuas dan lalu lalang sampan yang menyeberangkan penumpang. Pengunjung juga dapat menikmati eksotisme kawasan ini sambil duduk-duduk di tangga-tangga yang terdapat di tepian sungai (waterfront) dengan mencelupkan kaki ke Sungai Kapuas. Suasana lebih sempurna jika dilakukan bersama keluarga atau sahabat sambil minum teh atau kopi. Akan lebih seru lagi bila pengunjung menikmati keindahan kawasan ini sambil makan bakso, kacang rebus, sate, jagung bakar/rebus, dan makanan ringan lainnya yang banyak dijajakan pedagang di sepanjang jalan di kawasan tersebut.

Pada malam hari, apalagi di akhir pekan atau di waktu-waktu liburan lainnya, pengunjung taman ini bertambah banyak. Sambil duduk lesehan berkelompok, pengunjung dapat menikmati pesona kawasan ini, melihat lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah penduduk di seberang sungai yang memancarkan sinar terang atau lampu-lampu motor air yang melintasi sungai.

Suasana malam kian hidup dan romantis dengan hadirnya pengamen yang membawakan lagu-lagu yang sedang hit dengan diiringi permainan gitar yang memukau atau gesekan biola yang mendayu-dayu. Pengunjung dapat meminta mereka untuk menyanyikan lagu-lagu kesukaan dengan memberikan tips sekedarnya.

Bila bosan, pengunjung dapat menikmati sisi lain taman dengan menyewa motor air untuk mengelilingi kawasan taman tersebut atau mencoba beberapa permainan ketangkasan yang memberikan sebungkus rokok atau sebotol sirup sebagai hadiahnya.

Pada hari-hari tertentu diadakan agenda wisata rutin, seperti festival layang-layang, pameran lukisan, pameran tanaman hias, panggung hiburan, dan pasar murah.

Taman Alun-alun Kapuas terletak di Jalan Rahardi Oesman, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Taman Alun-alun Kapuas terletak di pusat Kota Pontianak dan dilalui oleh trayek angkutan kota, sehingga pengunjung dapat mengaksesnya dengan mudah dari segala penjuru Kota Pontianak. Selain dengan angkutan kota, pengunjung juga dapat mengakses taman tersebut dengan naik taksi.

Di sekitar kawasan Taman Alun-alun Kapuas terdapat berbagai fasilitas, seperti masjid, ATM, bank, taman parkir, arena bermain anak-anak, persewaan motor air, pusat perbelanjaan, restoran, warung makan, kantin, pedagang kaki lima, sentra oleh-oleh dan cenderamata, warung internet, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, serta wisma dan hotel dengan berbagai tipe.



Cagara Alam Kepulauan Karimata




Kepulauan Karimata terletak lebih kurang 100 kilometer sebelah barat kota Ketapang. Secara geografis kawasan tersebut berada pada 108o40' - 109o10' BT dan 1o25' - 1o50' LS. Luas kawasan konservasi yang ditetapkan pada tahun 1995 ini adalah 77.000 hektar. Kepulauan Karimata terdiri dari dua pulau besar yaitu Pulau Karimata dan Pulau Serutu serta beberapa pulau kecil lainnya. Kondisi topografi kawasan berupa dataran rendah sampai dengan tinggi, dari 0 - 1030 meter dari permukaan laut. Hanya di dua pulau tersebut yang dihuni oleh penduduk.


Kepulauan Karimata dapat dicapai dari kota Pontianak menggunakan kapal motor dengan waktu tempuh 18 jam. Mengingat kesulitan dalam mencapai kawasan, kegiatan pengelolaan kawasan masih relatif sedikit dibanding kawasan lainnya.


Kepulauan Karimata memiliki keanekaragaman ekosistem baik ekosistem darat maupun ekosistem laut, termasuk berbagai variasi terumbu karang dan ikan hias laut. Akibat terpisahnya kepulauan Karimata dengan pulau Kalimantan, maka beberapa jenis flora dan faunanya tergolong endemik yang cukup unik di kepulauan ini. Namun penelitian jenis-jenis tersebut secara lengkap hingga saat ini belum dilakukan.

RUMAH BETANG, RUMAH ADAT DAN BUDAYA DAYAK YANG HAMPIR TERSINGKIRKAN

Terinspirasi dan bersumber dari buku “Pergulatan Identitas Dayak Dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut” Penerbit Galangpress, April 2006.
Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak).
Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.

Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.
Rumah Betang
Rumah Betang
Tetapi pada masa sekarang pun banyak orang luar (bahkan orang Indonesia sendiri) beranggapan bahwa suku Dayak adalah suku yang tertutup, individual, kasar dan biadab. Sebenarnya hal ini merupakan suatu kebohongan besar yang diciptakan oleh para colonial Belanda waktu masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk memecah belah persatuan dan kesatuan terutama di antara suku Dayak sendiri yang pada saat itu menjunjung tinggi budaya rumah Betang. Dan kebohongan tersebut masih dianggap benar sampai sekarang oleh mereka yang tidak mengenal benar orang Dayak. Sebagai contoh, tulisan karya orang Belanda bernama J. Lameijn yang berjudul Matahari Terbit, dimana tulisan tersebut sangat merendahkan martabat masyarakat Dayak. Bagian tulisan itu sebagai berikut.
…. Setelah habis pertcakapan itu, cukuplah pengetahuan saya tentang orang Dayak. Sebelum itu saya sudah tahu, bahwa orang Dayak itu amat kasar dan biadab tabiatnya. Kalau tiada terpaksa, tiadalah saja berani berjalan sendiri ditanahnya, karena tentulah saja akan kembali tiada berkepala lagi”.
Citra buruk masyarakat Dayak di perparah lagi dengan timbulnya kerusuhan-kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan yang di ekspos besar-besaran hingga keluar negeri (terutama melalui media internet) tanpa memandang sebab sebenarnya dari kerusuhan tersebut hanya memandang berdasarkan pembantaian massal yang terjadi, seperti kerusuhan di Kalimantan Barat (Sambas) dan Kalimantan Tengah (Sampit dan Palangkaraya). Saya sendiri berada di kota Sampit saat kerusuhan pertama kali pecah tanggal 18 Februari 2001 dan 2 hari kemudian saya berada di Palangkaraya, saat itu saya masih kelas 3 SMP. Berdasarkan pandangan saya atas kerusuhan etnis di Sampit dan Palangkaraya, dimana disini saya tidak berpihak pada suku manapun tapi saya lebih melihat berdasarkan fakta yang ada di lapangan selama saya tinggal di Sampit dari saya kecil hingga saat pecahnya konflik Sampit. Kerusuhan tersebut bukanlah akibat adanya tokoh-tokoh intelektual yang ingin mengacaukan keadaan atau perasaan cemburu suku Dayak karena etnis tertentu lebih berhasil dalam mencari nafkah di Kalimantan, tetapi lebih kepada terlukanya perasaan masyarakat Dayak yang dipendam selama bertahun-tahun akibat tidak di hargainya budaya Betang yang mereka miliki oleh etnis tertentu, hingga perihnya luka tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh masyarakat Dayak dan akhirnya mengakibatkan pecahnya konflik berdarah tersebut. Seharusnya etnis tertentu tersebut lebih memahami pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bukannya bersikap arogan dan ingin menang sendiri serta tidak menghargai budaya lokal (budaya rumah Betang yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa ).
Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan. Sebut saja, misalnya di Palangkaraya terdapat sebuah rumah Betang yang dibangun pada tahun 1990-an tetapi lebih terlihat sebagai monumen yang tidak dihuni. Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang (termasuk saya sendiri). Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern.
Dan sekarang, dalam menghadapi kehidupan modern yang sangat individualis, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, materi dan penuh kemunafikan, masihkan budaya rumah Betang menjadi tatanan hidup bersama di Kalimantan ataukah budaya ini akan ikut menghilang seperti menghilangnya bangunan rumah Betang di Kalimantan. Apapun jawabannya hanya kita orang Kalimantan yang dapat menentukannya !

Jumat, 03 Desember 2010

Sejarah Kota Pontianak

 KOTA PONTIANAK

Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama Khun Tien oleh etnis Tionghoa di Pontianak.

Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak, simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.

Asal nama

Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.

Sejarah


Masa pendirian

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Radjab 1185 H), yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada 1192 H, Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan pada Kesultanan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Jami' Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Keraton Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.

Sejarah pendirian menurut VJ. Verth

Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth, dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.

Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi), dari Betawi. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), setelah meninggalkan kerajaan Mempawah mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya. Kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan Pontianak berdiri.

Kolonialisme Belanda dan Jepang

Pada 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dimpimpin oleh Willem Ardinpola. Kolonial Belanda saat itu menempati daerah di seberang keraton kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.

Pada 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda, yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo lstana Kadariah Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asistent Resident Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.

Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah, dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan Jepang di Pontianak.

Masa Stadsgemeente

Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal 1948 dan kemudian diganti oleh Ads. Hidayat.

Masa Pemerintahan Kota

Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-Undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak. Sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib.

Masa Kota Praja

Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah.

Masa Kotamadya dan Kota

Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang Undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak. Kemudian dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah merubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan kota Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak.

ASAL MULA SAMBAS


Kesultanan Sambas sebuah Negeri berpenduduk mayoritas Etnis Melayu,dengan luas 20.940 km² ,bandingkan dengan kesultanan Brunai (5.765 km²).
Pada tahun 1915 Negeri Sambas berpenduduk 130.000 jiwa,yang terdiri dari berbagai etnis atau suku kaum :

- Orang Eropa 100 jiwa
- Suku Dayak 26.000 jiwa
- Orang Arab dan Timur asing lainya 270 jiwa
- Cina (tionghoa) 30.000 jiwa
- Melayu Jawa dan Bugis 67.000 jiwa

Pada tahun 1988 Sambas berpenduduk 895.900 jiwa,dan merupakan sebuah kabupaten dibawah kedaulatan NKRI.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhhammad Syafi’uddin I yang dinobatkan pada tanggal 10 Zulhijjah hari Senin tahun 1040 H(9 Juli 1631 M ).nama Sambas sudah dipergunakan dan telah dipergunakan jauh sebelum itu …


ISTANA SAMBAS

Di era kerajaan Majapahit dizaman kekuasaan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada,kerajaan Sambas disebut sebut sebagai satu kerajaan di Borneo yang berada dibawah kekuasaan Maja Pahit,hal ini dibuktikan oleh tulisan Empu Prapanca didalam buku “NEGARA KERTAGAMA” yang dituliskanya tahun 1365 m.


Dalam Pupuh XII dan XIV buku NEGARA KERTAGAMA dituliskan ,kerajaan Nusantara yang berada dibawah kekuasan Majapahit antara lain :

PUPUH XII BUKU NEGARA KERTAGAMA
Menyebutkan “Lawas dengan Samudra serta Lamuri Batam,Lampung dan juga Barus itulah terutama Negara Melayu yang tlah tunduk,Negara Negara dipulau Tanjung Pura :Kapuas_-Katingan,Saampit,Kota Lingga,Kota Waringin,Sambas,Lawai Ikut disebut”.

PUPUH XIV :

“Kandangan ,Landa,Samadang dan Tirem,takterlupakan Sedu,Berune(ng),Kalka Seludung ,Solot dan juga Pasir Barito ,Sawaku ,Tabalung,ikut juga Tanjung Kutei,Malano tetap yang terpenting dipulau Tanjung Pura.”(kutipan tulisan Prop. Dr.Slamet Multono,”Negara Kertagama Tafsir dan Sejarahnya”.penerbit Bharata,Jakarta 1979 hal 280 )

Pabila buku Negara Kertagama(1365) telah menyebut kata “Sambas”kemungkinan kata ini berasal dari bahasa Jawa kuno”Samba” yang berarti bersuka ria atau menari,dalam kamus bahasa Indonesia ‘
“Samba” berarti bersukaria dan dapat diartikan pula kata Sambas kerajaan yang makmur dan sentosa,,beberapa nama sultan Sambas memakai nama tokoh pewayangan,Raden Bima Raden Semar dan Raden Samba ,adapun dalam pewayangan Raden Samba adalah Putra Arjuna.
Namun sampai sekarang belu ditemukan tulisan yang menjelasan asal mula pemakaian kata Sambas,beberapa pendapat yang ada hanya berdasakan cerita turun temurun tanpa ada catatan yang melandasi alas an tersebut.

Penulis buku “ASAL USUL SAMBAS” H.Urai Jalaludin Yusuf Dato’Ronggo

Menjelaskan,
Berdasarkan cerita dongeng rakyat Sambas,nama Sambas berasal dari tiga orang sahabat seorang diantarnya bernama ABBAS,bersama mereka terdapat pula seorang Cina,jadi mereka adalah tiga orang sahabat yang selalu bekerja sama,,didalam bahasa Cina, tiga biasa disebut SAM,,maksud dari kata Sambas adalah kerjasama bertiga dengan Abbas mereka sebutlah Sambas,lama kelamaan nama tersebut semakin populer dan melekatlah kata Sambas yang merupakan symbol kerjasama tiga sahabat.

Dalam cerita lain Dato’Ronggo menyebutkan,asal nama Sambas bermula dari legenda Negeri Kebanaran(Kebenaran) diPaloh,dua orang Sahabat bernama
Syamsudin dan Saribas ,
Syamsudin kawin dengan orang halus(Jin) diNegeri Kebanaran,tetapi kemudian dia menghilang karena diperecayai dia pindah dan ikut berdiam diNegeri Kebanaran.namun jiwa Sam selalu mengikuti sahabatnya Saribas(suku Dayak),,Dimana ada Sam disitu ada Saribas..,itu terjadi karena ketika mereka berada di Muara Ulakan (Sekarang tempat berdirinya Istana Sambas) mereka pernah berikrar berjanji tidak akan ada pertikaian dan saling dendam antara mereka,walau mereka dari suku berdeda (Dayak danMelayu),janji tersebut mereka tandai dengan melempar batu bersama disimpang tiga muara ulakan sambil berikrar tak ada permusuhan,pertikaian,selamanya kecuali batu yang mereka lemparkan bisa mengapung dipermukaan air Muara ulakan..Sejak itu diambilah Nama Sam(dari Syamsudin) dan Bas(dari Saribas) untuk menamai tempat tersebut dengan nama “SAMBAS”,.
Sampai sekarang orang Dayak Maupun Melayu percaya mereka adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan semboyan..”IBARAT AUR(Bambu) DAN TEBING” selalu terikat dan memerlukan satu sama lain,hal tersebut dapat terlihat disaat kerusuhan etnis berdarah tahun 1999,persaudaraan mereka tetap kokoh dan tak pernah goyah…….(BERDASARKAN CERITA DONGENG RAKYAT SAMBAS)….


MESJID JAMI’ SAMBAS.DITEPIAN SUNGAI SAMBAS

SEJARAH SULTAN SULTAN SAMBAS

PANGERAN ANOM GELAR SULTAN MUHAMMAD ALI SYAFIUDDIN I (1815-1828)

Raden Pasu sewaktu ayahnya Sultan Umar Akamuddin II memerintah sudah bergelar Pangeran Anom (Anum).Sejak usia mudaPangeran Anom gemar sekali bergaul dengan masyarakat pelaut,dari pergaulanya itulah ia mendapat ilmu pengetahuan,iapun banyak belajar ilmu Ghaib,Spiritisme,Telepati ,Magnetisme,ilmu kebal,silat ,hipnotis ,cekok (Ragum/menurut Bahasa Sambas) dll.oleh karena itulah Pangeran Anom terkenal sebagai pelaut ulung ,amat bijak dan tangkas,Pangeran gagah berani yang siap mengorbankan dirinya untuk keamanan dan kemakmuran negeri Sambas..




PANGERAN ANOM ”PELAUT ULUNG SANG PENAKLUK”

Pangeraan Anom menjalankan politik dan taktik peperangan dilaut, serta membuka pintu kuala Sambas buat kemajuan negeri dan rakyatnya agar ekonomi dalam negeri berkembang….Perbatasan Negeri Sambas bertambah luas diera tersebut,menguasai pulau pulau kecil disekitarnya semakin bertambah ramai dan makmur…Pangeran Anom lebih senang berada dilaut .ia merasa jemu apabila selau tinggal diistana.dia berpendapat bahwa orang yang hendak menjadi pemimpin negeri haruslah meninjau keluar negeri buat belajar melihat keadaan dinegeri orang,jangan seperti katak didalam tempurung.

Untuk menyampaikan cita cita yang terkandung dihati sanubarinya,Ia berlayar mengarungi samudra luas.ditengah tengah laut itulah Pangeran Anom mengintai ,menghalau ,menangkap perahu perahu layar,wangkang,kapal kapal layar kepunyaan siapapun.setelah diperiksa muatanya,perahu perahu itu dibawanya ke Sambas .setiap tahun tidak sedikit para pendatang yang menjadi penduduk Negeri Sambas dan bernaung dibawah panji Sultan Abu Bakar Tajudin I, bahkan kapal kapal dari Eropa sering takluk oleh pasukan Pangeran Anom .oleh karena itulah nama dan gagah perkasanya Pangeran Anom termasyhur kesegenap negeri disebelah timur ini..Jika tidak ada hal yang penting benar,jarang sekali Pangeran Anom pulang ke istana Sambas.bahkan 4- 5 tahun ia mengembara kenegeri orang dan berada ditengah lautan luas.apabila ia merasa lelah ,maka beristirahatlah ia beberapa bulan dipulau Lemukutan.pulau ini dipilihnya sebagai kubu pertahanan,sebagai pangkalan pasukan lautnya serta dijadikan gudang persediaan air tawar,makanan,alat alat perang.pulau ini tempat Pangeran Anom menenangkan pikiranya.pada pagi dan petang ia dapat melayangkan pandanganya jauh kelautan lepas dan kegunung gunung didaratan negerinya,sehingga hati yang susah menjadi terhibur.payah dan letih seakan akan terhisap oleh kekayaan alam yang indah dan amat menarik hatinya.

Pulau Lemukutan dan pulau pulau yang kecil disampingnya seperti pulau Kabung,pulau Penatah Besar dan pulau Penatah kecil serta pulau Pikah sampai Tanjung Datuk sangat strategis untuk melaksanakan penyerangan,peperangan dan pertahanan…tapi sekarang pulau pulau tersebut tidak lagi menjadi bagian dari Kabupaten Sambas…nampaknya perlu ada evaluasi panjang bagi anak anak Negeri Sambas untuk dapat memulihkan kejayaan Negeri Sambas

KERAJAAN SAMBAS


HUBUNGAN SAMBAS DAN MAJAPAHIT

Dalam masa kejayaanya kerajaan Majapahit telah menguasai seluruh wilayah Nusantara,termasuk kerajaan Sambas dipulau Kalimantan.(Nagara Kertagama Pupuh XIII).Majapahit bukan hanya menguasai kerajaan kerajaan dibawah taklukanya,tetapi telah mengirimkan keturunan dan keluarga raja dengan prajuritnya.mereka bukan hanya menguasai daerah dan rakyatnya,tetapi yang terpenting pula mengembangkan kebudayaan agama Hindu dan Budha.namun tidak banyak peninggalan raja raja dari agama Hindu di Sambas dan Kalimantan...daerah ini umumnya daerah rawa berlumpur dan tidak ada batu besar untuk membuat prasasti atau candi…peninggalan sejarah zaman itu sulit dibuat dan mudah hancur oleh air dan Lumpur.ada yang berpendapat bahwa arca Hindu dan Budha di Sambas dibuat dari emas.buktinya di British Museum London terdapat 9 buah arca agama Hindu dan Budha berasal dari Sambas.

Sambas dimasa sebelum Ratu Sepudak kurang dikenal,sejarahnya diliputi kabut kegelapan…dari cerita rakyat yang bersipat legendaries yang dituturkan dari mulut kemulut terdapat bermacam macam versi.sebagaimana kerajaan kerajaan Melayu /Islam pada umumnya,demikian pula kesultanan Sambas baru memulai sejarahnya pada permulaan berkembangnya agama Islam sejak akhir abad ke 16.

Menurut cerita rakyat, sebelum kedatangan prajurit Majapahit di Paloh,sudah ada kerajaan Sambas Tua.diceritaklan bahwa pada akhir abad ke 13 didaerah Paloh terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu(Raja) bernama Raden Janur…Suatu malam kerajaan tersebut kejatuhan benda langit (Tahi Bintang/Meteor) sebesar buah kelapa,yang bercahaya sangat terang,terkenal dengan nama “Mustika Bintang”.peristiwa aneh itu tersebar luas keseluruh Nusantara hingga ke Majapahit,Prabu Majapahit memerintahkan pasukanya untuk mendapatkan “Mustika Bintang” tersebut…Pasukan Majapahit mendarat Dipangkalan Jawi (Jawai)..Alkisah,Raden Janur tidak bersedia menyerahkan Mustika Bintang,ia melarikan diri ke hutan dan menghilang bersama “Mustika Bintang”,konon kabarnya ia menjadi orang Kebanaran atau orang halus (menurut kepercayaan orang Sambas,Paloh adalah pusat kerajaan Negeri Kebanaran/Negeri Ghaib)...

Diceritakan bahwa pasukan Majapahit tersebut tak kembali ke Majapahit tetapi tinggal dan membaur dengan penduduk asli,akhirnya mereka membentuk sebuah kerajaan yang kuat,dengan ratunya berasal dari hasil perkawinan dengan penduduk setempat.diceritakan pula bahwa pada suatu hari ratu dari kerajaan ini bertamasya kepulau “Lemukutan”…dipulau itu sayup sayup terdengar ditelinga raja bunyi tangisan bayi.seluruh rombongan disuruh mencari dari mana datangnuya suara tersebut..setelah lama mencari akhirnya diketahui suara tersebut berasal dari sebuah rumpun bambu…Bambu tersebut dipotong lalu dibawa pulang keistana dan pada malamnya bambu tersebut dibelah dan betapa terkejutnya semua yang melihat kejadan tersebut,ternyata pada salah satu ruas bambu yang dibelah berisi seorang bayi laki laki…bayi tersebut akhirnya dipelihara raja bersama anaknya… Kian hari tumbuh berkembang dengan sehat,namun sangat disayangkan ia hanya mempunyai sebuah gigi layaknya seperti gigi labi labi.karena itu ia diberi nama “Tang Nunggal” (Hanya Bergigi Tunggal).

Sewaktu Ratu Meninggal,Tang Nunggal berambisi untuk menjadi raja…Dengan mengandalkan kekuatan dan kelicikanya.ia berhasil menyingkirkan putera mahkota dan menobatkan dirinya menjadi raja.Tang Nunggal adalah Raja Yang kejam,bengis dan tidak berperikemanusiaan….Karena kekejamanya Putera dan Puterinya Bujang Nadi dan Dare Nandung dikuburkan hidup hidup dibukit Sebedang lantaran kedua bersaudara itu dituduh berniat kawin sesama saudara (Legenda Bujang Nadi Dare Nandung)...Singkat cerita,hukum karma akhirnya berlaku pada dirinya,Tang Nunggal akhirnya meninggal dalam keadaan yang sangat menggenaskan,ia dimasukkan kedalam peti dan petinya dibuang kedalam sungai Sambas (petikan cerita menurut dato’ Ronggo pada tahun 1991).

Setelah Tang Nunggal dikubur disungai Sambas,Putera mahkota yang tersingkir yang berasal dari keturunan MajaPahit muncul dan mengambil alih kendali pemerintahan...raja itulah yang menurunkan raja raja Sambas sampai kepada Ratu Sepudak.

Setelah runtuhnya Majapahit ,Sambas berada dibawah kerajaan Johor(Malaysia) .pada masa Ratu Sepudak telah diadakan perjanjian dagang dengan Oppenkoopman Samuel Bloemaert dari VOC yang ditanda tangani pada 1 Oktober 1609 dikota Lama (Perjanjian Ratu Sepudak dengan VOC).

Kedatangan secara besar besaran prajurit Majapahit keSambas adalah pada masa raja Cananagara..prajurit Majapahit yang dibawa dengan kapal,tahun 1364 mendarat di Pangkalan Jawi.kini daerah itu bernama Jawai…prajurit Majapahit itu bukan berperang dan berkuasa tapi tinggal membaur dan kawin dengan penduduk setempat.percampuran dengan pendatang dari Majapahit ini yang mendorong berdirinya kekuasaan keturunan raja Majapahit yang selanjutnya berpusat Di “Paloh”…mungkin karena terlalu banyak peperangan pada dan tahun 1364 Patih Gajah Mada sudah meninggal.banyak keturunan Majapahit berpindah kedaerah lain.mereka juga masuk ke Brunai,Mempawah ,Tanjung Pura,Landak,Sanggau ,Sintang,Sukadana,dan kerajaan kerajaan kecil dipedalaman Kalimantan Barat.hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan benda sejarah peninggalan kerajaan Hindu Majapahit antara lain Batu Pahat di Sekadau,Eka Muka Lingga Guwa di Sepauk,dan lain lain.

Pada pertengahan adad ke 15,pusat kerajaan keturunan Majapahit ini berpindah dari Paloh kekota Lama dibenua Bantanan-Tempapan dikecamatan Teluk keramat.raja raja diSambas waktu itu disebut dengan gelar ratu ,seperti gelar raja raja di Majapahit.

Ketika raja Tang Nunggal berkuasa,iapun membayar upeti kepada Raja Tumasik…mungkin karena merasa telah merdeka,setelah lepas dari kerajaan Majapahit.

Ratu sepudak dengan saudaranya Timbung Paseban berkuasa sejak tahun 1550 di “Kota Lama”(Ibukota Sambas Tua),pada tahun 1570, kerajaan Sambas di “Kota Lama” berada dibawah kekuasaan kerajaan Johor…Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit,di kerajaan Johor telah menganut kepercayaan agama Islam,dan Johor menguasai kesultanan kesultanan dipantai barat Kalimantan seperti,Brunai,Serawak,Sambas,Mempawah,Sukadana/Matan.sejak itu agama islam pun mulai dianut orang dikesultanan Sambas.(Prof.Dr.E.Gade Malsbergen ;”Geschidemis van Nederland indie,llitgertrd Mij,Amsterdam,1939,deel’,hal.349).

Ratu Sepudak sebagai raja Sambas dikota lama adalah raja beragama Hindu terakhir Di Kota Lama Sambas…Belanda(VOC) yang baru saja menguasai Batavia pada tahun 1596,pada tahun 1604 telah mengunjungi kerajaan Matan dan membuka hubungan dagang dengan Matan ...Dari Matan ,VOC mendapatkan informasi tentang kerajaan yang ada di pantai barat Kalimantan.tahun 1609,VOC datang kekota Lama Sambas.mengetahui Sambas kaya dengan emas,VOC mengikat perjanjian dengan Ratu Sepudak.dalam perjanjian tanggal 1 Oktober 1609 itu,wakil VOC Samuel Bloemaert sekaligus mengikat kerajaan Landak dan Sukadana.Belanda paham benar karena landak adalah penghasil intan terkenal dan Sambas serta Matan adalah pusat penjualan emas dan intan pada masa itu.inilah awal dari perjanjian Belanda di Sambas,walaupun baru sejak 1817 Belanda duduk dan berkuasa di Sambas sumber lampiran perjanjian VOC dan Sambas 1 Oktober 1609).

SEJARAH MEMPAWAH



TIGA PUSAKA KERATON HILANG MISTERIUS

Pada zaman dahulu,dikisahkan pemerintahan Senggaok memiliki tiga pusaka keraton,yang konon menurut cerita hilang secara ghaib,pada masa pemerintahan Panembahan Ibrahim Syafiuddin.
Adapun keris pusaka tersebut bernama keris Naga Api (Naga Geni),dari Raja susuhan anaknya Prabu Brawijaya,dari kerajaan MajaPahit.
Keris tersebut milik Panembahan Senggaok,yang merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya.

Menurut cerita,Raja Susuhan dari Majapahit yang membawa keris Naga api ke Bengkule Rajang,bersama seperangkat gamelan senenan dan meriam yang bernama Bujang Jawa.
Naga geni dan Bujang Jawa,lenyap secara misterius,pada zaman Sultan Ibrahim Syafiuddin,konon,katanya kedua pusaka tersebut hilang,tatkala didalam istana terjadi kebakaran.

Menurut cerita turun temurun,saat api masih berkobar membakar istana,keris Naga geni melayang diudara,menembus tiang istana yang tidak dijilat api,ketika menembus tiang gagangnya tercabut dan tertinggal dilantai istana.
Hilangnya Meriam Bujang Jawa,baru diketahui setelah kobaran api yang membakar istana dapat dipadamkan.kedua pusaka dinyatakan hilang secara ghaib,dan sampai sekarang tidak diketahui dimana rimbanya.

Sedangkan pusaka ketiga yang hilang secara misterius,berupa sebilah pedang dari Pagar Ruyung ,pedang ini hilang saat penjajah Jepang menjejakan kaki dibumi Mempawah.
Pedang Pagar Ruyung merupakan warisan Raja Qahar,mertua Panembahan Senggaok.
Sangat disayangkan hilangnya artefak tersebut yang merupakan bukti kaitan sejarah,antara kerajaa di Jawa,Melayu,Dayak,dan Bugis.pusaka yang hilang tersebut merupakan bukti nyata kesatuan empat suku yang telah membaur sejak ratusan tahun yang lalu….

Sejarah Kerajaan Mempawah


Repro Foto : Pertemuan dengan Sultan Sambas Moehammad Syaifuddin (duduk di tengah), Panembahan Mempawah Gusti Ibrahim Mohammad Syafiuddin (kanan) dan Sultan Pontianak Syarif Oesman Alkadrie (kiri).


Johan Wahyudi
Borneo Tribune, Mempawah


Sebelum terkenalnya Kerajaan Mempawah yang dikenal dengan Istana Amantubillah dan Opu Daeng Manambon, telah ada jauh kebelakang kerajaan Dayak yang ketika itu sangat populer dikenal di Kalimantan Barat. Dan apabila akan mencoba menuliskan sebuah kerajaan di Kalimantan Barat sebelah Barat khususnya, maka tidak dapat dilepaskan kaitan dan rangkaiannya dengan penduduk aslinya yaitu Suku Dayak yang mula pertama menjadi raja dan penguasa.

Sebagaimana dituturkan penulis sejarah Kerjaan Mempawah, Ellyas Suryani Soren, ditemui dikediamannya di Jalan Gusti Ibrahim Safiudin, Gang Berkat I, MempawahHilir, Minggu (23/12), kemarin, mengatakan, masuknya Agama Islam di Indonesia pada akhir abad ke 13 sekitar 1292 lalu, melalui Pulau Sumatera bagian Utara (Aceh), yang meluas sampai ke Pulau Jawa, maka berangsur-angsur runtuhlah kerajaan besar Majapahit yang terpusat di Pulau Jawa. Dan terdapatlah pulau besar yang belum pernah disentuh oleh penyebaran Agama Islam.

“Kerajaan Melayu (Islam) di Kalimantan Barat tumbuh sebelum Imperium Melaka jatuh ketangan Portugis pada abat ke 16, sebagaimana diketahui adanya kerajaan Mempawah, Kerajaan Sambas, Kerajaan Matan (Ketapang) dan sejumlah kerajaan kecil di daerah pedalama,” katanya.

Perkembangan sebuah Kerajaan Melayu di Kalimantan Barat, khususnya Sambas dan Mempawah, termasuk Ketapang tidak terlepas dari kontribusi pahlawan-pahlawan Bugis yang memainkan peran di kepulauan Riau dan Tanah Semenanjung.

“Kerajaan mempawah lebih dikenal pada masa Pemerintahan Opu Daeng Manambon yaitu sejak 1737-176, sebenarnya kerajaan Mempawah itu sudah ada sebelumnya diperkirakan sejak tahun 1380,” katanya.

Lanjutnya lagi pertama kali Kerajaan Mempawah berdiri, pusat pemerintahannya bukanlah terletak di Mempawah seperti yang dilihat bekas-bekas peninggalannya sekarang. Tetapi pusatnya terletak di Pegunungan Sidiniang (Mempawah Hulu). Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah Kerajaan Suku Dayak, adapun penguasa dari kerajaan suku Dayak adalah Patih Gumantar. Pada Kerajaan Patih Gumantar disebut kerajaan Bangkule Rajakng, ibukotanya ditetapkan di Sadiniang, bahkan kerajaannya dinamakan Kerajaan Sadiniang.

“Pada masa kekuasaan Patih Gumantar, Kerajaan Bangkule Rajakng berada dalam era kejayaan,” ucapnya.

Sehingga kerajaan tetangga yang ingin merebutnya yaitu Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung, maka terjadi perang kayau mengayau (memenggal kepala manusia). Meskipun Patih Gumantar sangat berani, namun dengan adanya serangan mendadak. Patih Gumantar kalah dan kepalanya terkayau (terpenggal) oleh orang-orang Suku Bidayuh, sejak kematian Patih Gumantar kerajaan Bangkule Rajakng mengalami kehancuran.

“Beberapa abad kemudian kira-kira tahun 1610, Kerajaan Suku Dayak bangkit kembali di bawah kekuasaan Raja Kudong dan pusat pemerintahannya dipindahkan ke Pekana (sekarang dinamakan Karangan), namun berdirinya kerajaan ini tidak ada hubungannya dengan Patih Gumantar,” katanya.

Lanjutnya lagi, setelah Raja Kudong wafat pemerintahan diambil alih oleh Raja Senggaok dari pusat kerajannya dipidahkan ke Senggaok ( masih di hulu Sungai Mempawah). Raja Senggaok lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Senggaok yang mempunyai istri bernama Puteri Cermin yaitu salah satu puteri Raja Qahar dari kerajaan Baturizal Indragiri Sumatera dan mereka dikarunia seorang anak yang diberi nama Mas Indrawati.

“Pada saat perkawinan raja Senggaok dan Puteri Cermin, diramalkan seorang ahli nujum apabila kelak lahir seoarang anak perempuan dari hubungan mereka maka kerajaan tersebut akan diperintah oleh seorang raja yang berasal dari kerajan lain. Ketika usia Mas Indarwati telah cukup dewasa, ia dikawinkan dengan Sulthan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dan dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang puteri berparas cantik yang diberi nama Puteri Kesumba,” paparnya.

Ramalan ahli nujum terhadam Raja Senggaok dan Pitri Cermin apabila kelak lahir seoarang anak perempuan dari hubungan mereka maka kerajaan tersebut akan diperintah oleh seorang raja yang berasal dari kerajan lain ternyata menjadi kenyataan

“Ternyata apa yang diramalkan ahli nujum itu benar adanya. Setelah berakhir pemerintahan Raja Senggaok. Kerajaan Mempawah diperintah oleh Raja Opu Daeng Manambon pelaut ulung dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan,” kata Ellyas Suryani Soren melanjutkan ceritanya yang pernah ditulisnya dalam buku Legenda dan Cerita Rakyat Mempawah.

Maka dari itu, Ellyas menjelaskan, Opu Daeng Manambon bukanlah orang Kaliamantan asli, beliau beserta keempat adik-adiknya berasal dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Mereka dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung dan pemberani. Mereka meninggalkan tanah kelahirannya merantau mengarungi lautan luas menuju Banjarmasin, Betawi, berkeliling sampai Johor, Riau, Semenajung Melayu akhirnya sampai pula di daerah Kerajaan Tanjungpura (Mantan).

“Dalam perantauannya, kelima bersaudara tersebut banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang sedang mengalami kesulitan. Kesulitan seperti terlibat pada suatu peperangan, baik perang saudara ataupun baru diserang kerajaan lain. Karena kebiasaan tersebut dan sifat suka menolong terhadap pihak yang lemah inilah mereka terkenal sampai dimana-mana,” katanya.

Dan terbukti apa yang dilakukan kelima saudara tersebut ketika datang di Kerajaan Tanjungpura. Pada saat itu Kerajaan Tanjungpura sedang terjadi perang saudara, disebabkan adik kandung Sultan Muhammad Zainuddin yang bernama Pangeran Agung menyerang Sultan Muhammad Zainuddin. Kelima saudara tersebut berhasil membantu memadamkan pemberontakan dan perampasan tahta kerajaan dari Pangeran Agung. Bahkan Opu daeng Manambon berhasil mempersunting Puteri Sultan Muhammad Zainuddin yaitu Puteri Kesumba cucu dari Panembahan Senggaok.

“Dari perkawinan Opu Daeng Manambon dengan Putri Kesumba, lahirlah sepuluh orang putra puteri, tetapi yang paling terkenal yaitu Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya,” katanya.

Lanjutnya lagi kertika Opu Daeng Manambon sampai di Senggaok, diadakan serah terima dari Pangeran Adipati kepada Opu Daeng Manambon, karena Opu Daeng Manambon adalah cucu menantu Panembahan Senggaok. Sehingga Opu Daeng Manambon memangku jabatan Raja Mempawah yang ke tiga dandia memindahkan pusat Kerajaan Mempawah di Sebukit Rama ( kira-kira 10 Km ) dari Kota Mempawah.

“Pemerintahan yang dilaksanakan Opu Daeng Manambon berjalan lancar beliau termasuk seorang raja yang bijaksana dan penduduknya beragama Islam serta taat. Selain itu Opu Daeng Manambon ini selalu bermusyawarah dengan bawahannya dalam memecahkan segala persoalan di kerajaan,” tuturnya.

Seperti yang diuraikan diatas tadi, dari kesepuluh putra-putri Opu Daeng Manambon hanya putrinya Utin Chandramidi adalah istri Sultan Abdurrahman Alkadrie, raja pertama Kerajaan Pontianak sehingga nama tersohornya sampai saat ini. Sedangkan putranya Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya, selain dia sebagai raja pengganti ayahnya, juga lebih terkenal itu dengan Raja yang paling anti dengan penjajah (Belanda) dengan sumpahnya, jasadnya diharamkan untuk dimakamkan di tanah yang di injak oleh Penjajah Belanda.

Setelah Opu Daeng Manambon wafat tanggal 26 Syafar 1175 Hijriah dan dimakamkan di Sebukit Rama yang selalu diramai dikunjungai masyarkat baik dari Kota Mempawah maupun daerah lain. Dimana kawasan makam Opu Daeng Manambon akan dikembangan menjadi kawasan wisata sejarah Kabupaten Pontianak. Dan ada keunikan yang ada disekitar makam dimana jumlah tangga selalu berubah dan setiap orang yang menghitung jumlahnya tidak akan pernah sama dengan orang lain.

“Setelah wafat Opu Daeng Manambon maka tampuk kerajaan diserahkan kepada Gusti Jamiril anaknya yang bergelar Panembahan Adijaya Kesuma Jaya. Dimana pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Dan masa pemerintahan Gusti Jamiril pula, kerajaan Mempawah mengalami masa keemasan,” kata Ellyas Suryani Soren yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Adat Budaya Melayau Kabupaten Pontianak.

Karena Panembahan Adijaya Kesuma mampu memimpin Kerajaan Mempawah dengan baik, kerajaannya menjadi suatu kerajaan yang makmur, akan tetapi beliau diifitnah membenci dan mau memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tentunya Belanda murka dan mengerahkan ratusan prajuritnya yang bermarkas di Pontianak untuk menyerang Kerajaan Mempawah.

“Melihat situasi yang tidak baik, akhirnya Panembahan Adijaya Kesuma mengambil keputusan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah di Karangan yang letaknya di Mempawah Hulu,” katanya

Keputusan tersebut diambil karena pada masa itu hubungan baik komunikasi maupun transportasi dari Mempawah ke Karangan sangat sulit sehingga gerakan pasukan Belanda menuju Karangan berjalan lamban sekali. Selain itu kebencian Panembahan Adijaya Kusuma terhadap penjajah Belanda semakin menjadi-jadi,” kata pria setengah baya ini.

Namun Panembahan Adijaya Kesuma sampai wafatnya terus berusaha mengusir Belanda. tetapi belum juga berhasil. Sebelum wafat beliau beramanah apabila meninggal dunia beliau tidak rela dikuburkan di luar kota Karangan, karena beliau tidak rela jenazahnya dijamah oleh Belanda. Dan setelah Gusti Jamiril (Panembahan Adijaya kesuma) wafat, jabatan raja diserahkan kepada anaknya Gusti Jati dan bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin dan kedudukannya adalah di Mempawah yang berarti bahwa beliaulah sebagai pendiri kota Mempawah ini.

Kemudian sebagai pengantinya setelah Sultan Muhammad Zainal Abidin meninggal digantikan oleh adiknya Gusti Amir yang bergelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin.

“Setelah beliau wafat tampuk kekuasaan diserahkan kepada anaknya Panembahan Mukmin. Namun ajal ditangan Allah SWT memang manusia punya rencana, tetapi Allah SWT juga yang menentukan segalanya, karena setelah selesai penobatan Panembahan Mukmin wafat dan sebab itu dia disebut Raja Sehari,” ucapnya.

Kemudian sebagai penggantinya adalah adiknya bernama Gusti Mahmud dan bergelar Panembahan Muda Mahmud. Panembahan Usman putera dari Panembahan Mukmin, kemudian naik tahta kerajaan setelah Panembahan Muda Mahmud mangkat.

“Panembahan Usman ketika dia menjadi raja bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma dan mangkat pada tanggal 6 Jumadil Awal tahun 1280 Hijriah di makamkan di Pulau Pedalaman,” ujarnya.

Setelah wafat Panembahan Usman, maka yang memegang tampuk Kerajaan Mempawah adalah putera Panembahan Muda Mahmud bernama Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin, pada saat pemerintahan Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin inilah, Belanda mulai lagi menyakiti hati rakyat Mempawah sehingga tahun 1941 timbul pemberontakan Suku Dayak terhadap Belanda. Apalagi Belanda sudah mulai menggunakan kekerasan dan memaksa rakyat membayar pajak. Dan peristiwa ini disebut Perang Sangking, jelas rakyat Mempawah pada waktu itu mulai antisipasi terhadap Belanda.

Kemudian setelah Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiudin ini wafat, maka semulanya pimpinan kerajaan akan diserahkan kepada Puteranya Gusti Muhammad Taufik, tetapi karena puteranya ini belum dewasa, maka kerajaan dipimpin sementara oleh Pangeran Ratu Suri kakak dari Gusti Muhammad Taufik sendiri.

Setelah beberapa tahun kemudian, Gusti Muhammad Taufik naik tahta pada tahun 1902 M dan kemudian bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Dua tahun 1944, Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin ini ditangkap oleh Jepang, bersama-sama Raja-raja daerah lainnya serta para Pemimpin Pemuka Masyarakat.

Kemudian 12 kepala Swapraja beserta tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang ditangkap Jepang yang akan memberontak terhadap rezim “Pemerintah Bala Bantuan Tentara Jepang” tersebut semuanya dihukum mati.
Korban pembunuhan Jepang pada waktu itu tidak kurang dari 21.037 orang. Dan sebagian dari pada korban tersebut dikuburkan di Mandor dalam semak belukar.

Beliau meninggalkan empat orang putera-puteri, yaitu Pangeran Mohammad yang sekarang dikenal dengan nama Drs. H. Jimmi Mohammad Ibrahim, kedua Pangeran Feitsal Taufik, Pangeran Abdullah dan Panggeran Taufikiah.
Pada masa kedudukan Jepang, dibentuklah Bestuur Komisi sebagai pengganti Raja yang diketuai oleh Pangeran Wiranata Kesuma (Tahun 1944-1946).

Sebelum pendaratan pasukan sekutu di Kalimantan Barat, Pangeran Mohammad yang baru berusia 13 tahun pernah diangkat sebagai tokoh (Panembahan) Mempawah oleh Pemerintah Bala Tentara Jepang dalam suatu upacara di depan Gedung Kerapatan.
Dan kemudian dilakukan upacara penobatan oleh tokoh-tokoh masyarakat, pada tahun1946 Belanda (NICA) datang kembali ke Mempawah dam mencoba mengangkat Panembahan (Raja) lagi.

Karena pada waktu itu Panembahan Pangeran Mohammad (Drs. Jimmi Mohammad Ibrahim) belum dewasa dan ingin melanjutkan sekolahnya, karena pada waktu itu baru duduk di kelas V SD (Jokio Ko Gakko), meskipun sudah pernah dinobatkan secara formil menjadi Panembahan, tetapi tidak bersedia diangkat kembali, maka diangkatlah Gusti Musta’an sebagai Raja sementara dengan gelar “Wakil Panembahan” sampai tahun 1957. Setelah Pangeran Mohammad dewasa, kemudian beliau menyatakan diri tidak bersedia diangkat sebagai Raja menggantikan ayahnya, dan masih tetap ingin melanjutkan sekolahnya di Perguruan Tinggi Gajah Mada di Yogyakarta.

Dan disinilah berakhirnya kepemimpinan kerajaan Mempawah, dan sejarah menunjukan bahwa Kerajaan Mempawah sejak berdiri hingga berakhir sudah mengalami perpindahan pusat Kerajaan sampai 5 (lima) kali. Daerah-daerah yang pernah ditempati sebagai pusat pemerintahannya adalah, Pengunungan Sidiniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, dan Mempawah.

Dan Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan ini dibagi atas 2 (dua) zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Pada zaman Hindu Pemerintahan Kerajaan Dayak dalam kekuasaan Patih Gumantar pusat pemerintahannya terletak di Pegunungan Sidiniang, Raja Kudong pusat pemerintahannya terletak di Pekana (Karangan), Panembahan Senggaok pusat pemerintahannya terletak di Senggaok.

Sedangkan pada zaman Islam dipimpin oleh Opu Daeng Manambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara, Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adijaya Kesuma Jaya, Syarif Kasim bin Abdurrahman Alkadrie, Syarif Hussein bin Abdurrahman Alkadrie, Gusti Jati bergelar Sulthan Muhammad Zainal Abidin, Gusti Amir bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin, Gusti Mukmin bergelar Panembahan Mukmin Natajaya Kesuma, Gusti Mahmud bergelar Panembahan Muda Mahmud Accamaddin, Gusti Usman bergelar Panembahan Usman, Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Tsafiuddin dan Gusti Taufik bergelar Panembahan Taufik Accamaddin.

Sejarah Pembentukan Kota Bengkayang

Sejarah Bengkayang

Kata Bengkayang dalam Bahasa cina: La La yang berarti jauh, awalnya Bengkayang merupakan sebuah desa bagian wilayah Sambas, desa Bengkayang merupakan tempat singgah pada pedagang dan penambang emas. Bengkayang pada masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling Van Singkawang, dimana pada waktu itu pembagian wilayah afdeling administrasi yang daerah hukumnya meliputi:
  • Onder Afdeling Singkawang, Bengkayang, Pemangkat dan Sambas (daerah Kesultanan Sambas)
  • Daerah Kerajaan/Penembahan Mempawah
  • Daerah Kerajaan Pontianak yang sebagian wilayahnya adalah Mandor
Setelah Perang Dunia II berakhir, daerah tersebut dibagi menjadi daerah otonom Kabupaten Sambas yang beribu kota di Singkawang. Kabupaten Sambas ini membawahi 4 (empat) kawedanan, yakni:
  • Kawedanan Singkawang
  • Kawedanan Pemangkat
  • Kawedanan Sambas
  • Kawedanan Bengkayang

Sejarah Pembentukan Wilayah Kabupaten Bengkayang

Dengan terbitnya Undang-uUndang Nomor 10 tahun 1999 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Bengkayang, secara resmi mulai tanggal 20 April 1999, Kabupaten Bengkayang terpisah dari Kabupaten Sambas. Selanjutnya pada tanggal 27 April 1999, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengangkat Pejabat Bupati Bengkayang pertama yang dijabat oleh Drs. Jacobus Luna. Pada waktu itu wilayah Kabupaten Bengkayang ini meliputi 10 (sepuluh) kecamatan. Bupati dan Wakil Bupati waktu itu dipimpin oleh Drs. Jacobus Luna dan Drs. Moses Ahie dengan masa pimpinan periode 2000 – 2005. Selanjutnya dengan adanya pemilihan Kepala Daerah secara langsung pada tahun 2005, terpilih kembali Drs. Jacobus Luna dan Suryadman Gidot, S.Pd sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang untuk periode 2005–2010.
Keberadaan Undang-undang Nomor 12 tahun 2001 tentang pembentukan Pemerintahan Kota Singkawang mengakibatkan Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali dengan melepaskan 3 kecamatan yang masuk kedalam wilayah pemerintahan Kota Singkawang sehingga tinggal menjadi 7 kecamatan. Kemudian pada tahun 2002, Kabupaten Bengkayang kembali bertambah menjadi 10 kecamatan dengan pembentukan kecamatan baru, yaitu:
  • Kecamatan Monterado
  • Kecamatan Teriak
  • Kecamatan Suti Semarang
Pada awal tahun 2004, dari 10 kecamatan yang ada tersebut, Kabupaten Bengkayang dimekarkan lagi menjadi 14 kecamatan dengan 4 kecamatan barunya, yakni:
  • Kecamatan Capkala
  • Kecamatan Sungai Betung
  • Kecamatan Lumar
  • Kecamatan Siding
Kemudian pada tahun 2005 ada pemekaran lagi, yaitu:
  • Kecamatan Sanggau Ledo dimekarkan lagi menjadi Kecamatan Tujuh Belas
  • Kecamatan Sungai Raya dimekarkan menjadi Kecamatan Sungai Raya Kepulauan
  • Kecamatan Samalantan dimekarkan menjadi Kecamatan Lembah Bawang
Jadi, jumlah keseluruhan kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkayang adalah 17 kecamatan.

Senin, 29 November 2010

RUMAH BETANG, RUMAH ADAT DAN BUDAYA DAYAK YANG HAMPIR TERSINGKIRKAN

Terinspirasi dan bersumber dari buku “Pergulatan Identitas Dayak Dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut” Penerbit Galangpress, April 2006.
Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak).
Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.

Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.
Rumah Betang
Rumah Betang
Tetapi pada masa sekarang pun banyak orang luar (bahkan orang Indonesia sendiri) beranggapan bahwa suku Dayak adalah suku yang tertutup, individual, kasar dan biadab. Sebenarnya hal ini merupakan suatu kebohongan besar yang diciptakan oleh para colonial Belanda waktu masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk memecah belah persatuan dan kesatuan terutama di antara suku Dayak sendiri yang pada saat itu menjunjung tinggi budaya rumah Betang. Dan kebohongan tersebut masih dianggap benar sampai sekarang oleh mereka yang tidak mengenal benar orang Dayak. Sebagai contoh, tulisan karya orang Belanda bernama J. Lameijn yang berjudul Matahari Terbit, dimana tulisan tersebut sangat merendahkan martabat masyarakat Dayak. Bagian tulisan itu sebagai berikut.
…. Setelah habis pertcakapan itu, cukuplah pengetahuan saya tentang orang Dayak. Sebelum itu saya sudah tahu, bahwa orang Dayak itu amat kasar dan biadab tabiatnya. Kalau tiada terpaksa, tiadalah saja berani berjalan sendiri ditanahnya, karena tentulah saja akan kembali tiada berkepala lagi”.
Citra buruk masyarakat Dayak di perparah lagi dengan timbulnya kerusuhan-kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan yang di ekspos besar-besaran hingga keluar negeri (terutama melalui media internet) tanpa memandang sebab sebenarnya dari kerusuhan tersebut hanya memandang berdasarkan pembantaian massal yang terjadi, seperti kerusuhan di Kalimantan Barat (Sambas) dan Kalimantan Tengah (Sampit dan Palangkaraya). Saya sendiri berada di kota Sampit saat kerusuhan pertama kali pecah tanggal 18 Februari 2001 dan 2 hari kemudian saya berada di Palangkaraya, saat itu saya masih kelas 3 SMP. Berdasarkan pandangan saya atas kerusuhan etnis di Sampit dan Palangkaraya, dimana disini saya tidak berpihak pada suku manapun tapi saya lebih melihat berdasarkan fakta yang ada di lapangan selama saya tinggal di Sampit dari saya kecil hingga saat pecahnya konflik Sampit. Kerusuhan tersebut bukanlah akibat adanya tokoh-tokoh intelektual yang ingin mengacaukan keadaan atau perasaan cemburu suku Dayak karena etnis tertentu lebih berhasil dalam mencari nafkah di Kalimantan, tetapi lebih kepada terlukanya perasaan masyarakat Dayak yang dipendam selama bertahun-tahun akibat tidak di hargainya budaya Betang yang mereka miliki oleh etnis tertentu, hingga perihnya luka tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh masyarakat Dayak dan akhirnya mengakibatkan pecahnya konflik berdarah tersebut. Seharusnya etnis tertentu tersebut lebih memahami pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bukannya bersikap arogan dan ingin menang sendiri serta tidak menghargai budaya lokal (budaya rumah Betang yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa ).
Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan. Sebut saja, misalnya di Palangkaraya terdapat sebuah rumah Betang yang dibangun pada tahun 1990-an tetapi lebih terlihat sebagai monumen yang tidak dihuni. Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang (termasuk saya sendiri). Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern.
Dan sekarang, dalam menghadapi kehidupan modern yang sangat individualis, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, materi dan penuh kemunafikan, masihkan budaya rumah Betang menjadi tatanan hidup bersama di Kalimantan ataukah budaya ini akan ikut menghilang seperti menghilangnya bangunan rumah Betang di Kalimantan. Apapun jawabannya hanya kita orang Kalimantan yang dapat menentukannya !